Archive for the ‘Green_Life’ Category

Biopori, Penyelamat Baru Lingkungan Manusia

Mungkin sebagian sudah mengetahui tentang istilah Biopori, untuk lebih jelasnya biopori adalah lubang-lubang yang terdapat dipermukaan bumi yang terjadi secara alami oleh gerak pergeseran kulit bumi, oleh little creatures atau dibuat oleh manusia sendiri. Manfaatnya yang pasti lubang-lubang tersebut merupakan jalan bagi air untuk dapat mencapai lapisan bawah tanah, ya secara tidak langsung jika dibuat secara baik dia dapat dijadikan sebagai penyerap air saat terjadi banjir.

Ya…

memang benar lubang-lubang tersebut jika dapat dibuat di daerah seperti Jakarta yang sudah langganan banjir bertahun-tahun dapat menjadi solusi tempat mengalirkan air. Lebih bermanfaat lagi jika dalam lubang tersebut dimasukkan bahan-bahan organik yang kelak dapat menjadi kompos, yang dapat menyuburkan tanah.

Ingin mencoba? baca User Guide making Biopories:

  1. Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 sentimeter. Kedalaman kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal. Jarak antar-lubang 5- sampai 100 cm.
  2. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3 cm dengan tebal 2 cm di sekliling mulut lubang.
  3. Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan atau pangkasan rumput.
  4. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.
  5. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.
Advertisements

Masa Depan Bumi di Ujung Knalpot

Scheveningen memutih, salju yang turun sejak pekan lalu mengubah wajah kawasan pantai Denhaag itu. Musim dingin tahun ini Belanda mendapat curah salju tertebal sejak tahun 1970-an. Negeri kincir angin ini bukanlah negara yang berpengalaman mengatasi salju yang tebal, walhasil, kemacetan terlihat di banyak tempat, beberapa sekolah dan kantor ditutup, bahkan bandara Schipol terpaksa membatalkan beberapa penerbangan. Dalam cuaca sedingin ini, umumnya penduduk memilih bertapa di rumah sambil mengawasi ramalan cuaca. Beaktifitas diluar rumah tentu pilihan terakhir yang sangat dihindari, salah-salah bisa tertular epidemi influenza yang sedang mewabah.

Tapi cuaca bukan halangan bagi beberapa wakil produsen mobil mewah sekelas Volvo, Ford dan Toyota untuk berpartisipasi dalam sebuah Workshop Internasional di bidang Teknologi Katalis yang diselanggarakan tanggal 1-4 Maret 2005 di Scheveningen. Tujuan mereka tak lain adalah untuk ikut mengamati perkembangan teknologi katalis untuk pengurangan emisi gas buang. Cita rasa internasional kental terasa di ruangan seminar. Beberapa tokoh besar di bidang katalis heterogen seperti Profesor Alexis T Bell (UC Berkeley), Prof. Albert Renken (EPFL Lausanne), dan Prof. Kapteijn (TU Delft) turut andil sebagai pembicara utama.

Sejak Protokol Kyoto di tahun 1997, sebuah konvensi PBB tentang perubahan iklim dan pemanasan global ditandatangani, negara-negara maju mesti bergegas guna mengambil langkah stategis dalam mengurangi emisi gas buang. Protokol Kyoto resmi diberlakukan secara internasional pada tanggal 16 Februari 2005 silam setelah melewati tarik ulur yang alot sejak tahun 1997. Negara-negara yang menandatangani amandemen ini berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (greenhouse gases) seperti CO2, N2O, HFCs dan PFCs.

Secara umum, Workshop ini membahas kemajuan katalisis dengan Microporous (zeolites) dan Mesoporous Materials yang mengandung Transitional Metal Ions seperti Besi (Fe), Tembaga (Cu) dan Kobalt (Co). Topik yang paling menyedot perhatian adalah perkembangan katalis Fe-Zeolites untuk Penguraian dan reduksi Nitrous oxide (N2O), gas rumah kaca yang menyerang lapisan ozon lebih ganas dari CO2. Pabrik asam Nitrat adalah sumber utama dari gas polutan yang satu ini. Banyak katalis yang aktif dalam reaksi penguraian N2O, namun hanya sedikit yang stabil dalam kondisi nyata di industri. Dua fokus riset yang diajukan Profesor Alexis Bell adalah Fe-ZSM-5 dan Fe-SBA-15. Katalis Fe-ZSM-5 merupakan katalis paling rumit untuk dikelasnya. Peran katalis ini dalam penguraian N2O (N2O decomposition) adalah riset yang 創yaris wajib・bagi beberapa grup riset terkemuka, karena daya tarik ilmiahnya bagai kalangan akademisi. Kendala terbesar dalam memahami kinetika reaksi dan optimasi Fe-ZSM-5 adalah tidak adanya keseragaman dalam proses sintesa dan produksinya dan rumitnya karakterisasi katalis populer ini. Beberapa teknik karakterissi terbaru seperti XANES (X-ray Absorption Near Edge Structure) dan EXAFS (Extended X-ray Absorption Fine Structure) diajukan guna mempelajari katalis dan mekanisme reaksi.

Yang juga tak kalah menarik dibahas adalah katalis bagi catalytic converter untuk dunia otomotif. Mobil keluaran terbaru biasanya sudah dilengkapi dengan Three Way Catalytic Converter (TWC). Converter yang tersedia umumnya logam mulia (Platinum dan Rhodium) dengan support yang memiliki spesific surface area yang luas dalam kerangka honeycomb monolith. Logam mulia Platinum dan Rhodium dipilih karena memiliki selektifitas dan konversi yang tinggi pada CO dan oksidasi senyawa hidrokarbon dan reduksi NOx. Seementara itu Palladium juga banyak digunakan bila bahan bakar tidak mengandung timbal yang meracuni katalis logam mulia tersebut. Logam lain seperti Ceria, zirconium dan Lanthanum oxide ditambahkan untuk menambah stabilitas katalis.

Sementara itu, produsen mobil mewah Volvo kembali melirik Cu-ZSM-5, jenis katalis yang dulu pernah di cap tidak stabil. Kini, dengan penurunan suhu gas buang pada kendaraan mewah, membuat Cu-ZSM-5 kembali menjadi primadona bagi beberapa produsen mobil. Teknologi emisi gas buang dari mobil dan truk memang tantangan bagi bagi peneliti di dunia katalisis. Untuk penerapan di kendaraan bermotor, katalis yang dipasang harus benar-benar robust. Betapa tidak, bervariasinya suhu gas buang dari cold start dampai full load (800 K) dan bervariasinya laju alir massa dan komposisi gas buang membutuhkan katalis yang stabil (thermal dan hydrothermal), bahan katalis yang tidak mudah teracuni oleh sulfur dan memiliki aktifitas dan selektifitas bagi reduksi NOx. Setidaknya, untuk kendaraan diesel, Cu-ZSM-5 dari beberapa riset grup sudah diklaim siap pakai.

Katalis lain yang juga ramai dibahas untuk mengurangi emisi gas polutan NOx yang dihasilkan industri (power plant dan gas tubine) adalah Co-zeolites. Katalis jenis ini diajukan untuk pengolahan gas buang (de-NOx) seperti Selective Catalytic Reduction (SCR). Sistem SCR bukanlah teknologi baru. Akhir tahun 1970-an, instalasi komersial dari teknologi ini sudah dipakai di industri. Namun, kebutuhan untuk mengurai emisi yang semakin ketat memaksa para insiyur kimia dan kimiawan untuk tidak berhenti menemukan katalis terbaik.

Singkatnya, beragam katalis baru siap dipasang dan adu unjuk kerja di kendaraan seri terbaru. Polusi udara dan isu pemanasan global yang banyak dipakai aktivis lingkungan untuk menyerang kalangan industri berangsur-angsur teratasi. Namun Kota-kota besar Indonesia, mungkin harus bersabar untuk menikmati kemajuan teknologi katalis ini karena catalytic converter baru terpasang di beberapa mobil mewah. Mimpi untuk melindungi masa depan bumi di daerah khatulistiwa mungkin harus disimpan untuk sementara. Yang realistis adalah kita harus terus mengurangi kadar timbal di udara, karena bensin bebas timbal belum milik semua kota di tanah air. Bebas timbal di bahan bakar berarti mengurangi kadar racun (toksin) di kepulan asap knalpot, yang ganas menyerang dan merusak otak pada anak-anak di jalanan Jakarta dan kota-kota rawan macet lainnya.

penulis : Oki Muraza

The Science of Changing Your Oil

Dear EarthTalk: How often do I really need to change my car’s oil? Conventional wisdom has always put it at every 3,000 miles to prevent engine wear, but isn’t changing oil that frequently wasteful and unnecessary? Also, what is the “greenest” and longest-lasting oil I should use?
— Vic Roberts, Lincoln, MA

There is much debate in the automotive world over how often drivers of typical passenger cars or light trucks should change their oil. The quick-lube chains usually recommend it be done every three months or 3,000 miles, but many mechanics would tell you that such frequent changes are overkill. Indeed, most car owner’s manuals recommend changing out the oil less frequently, usually after 5,000 or 7,500 miles.

According to the automotive website Edmunds.com, the answer depends more on driving patterns than anything else. Those who rarely drive more than 10 miles at a time (which doesn’t get the oil hot enough to boil off moisture condensation) or who start their car frequently when the oil isn’t hot (when most engine wear occurs) should change their oil more often—at least twice a year, even if that’s every 1,000 miles, according to Edmunds. But commuters who drive more than 20 miles a day on mostly flat freeway can go as far as their owner’s manual recommends, if not longer, between changes. As a car ages, more frequent changes might be in order, but that’s for a qualified mechanic to decide on a case-by-case basis.

“The necessity of 3,000 mile oil changes is a myth that has been handed down for decades,” writes Austin Davis, proprietor of the website TrustMyMechanic.com. He says that the economics of the oil change industry demand pushing customers to get their oil changed more frequently—purportedly as “cheap insurance” against problems cropping up—whether they need it or not. One of the largest oil change chains, Jiffy Lube, for instance, is owned by Pennzoil-Quaker State, and as such has an incentive to sell as much of the company’s traditional petroleum-based oil as possible.

One way to reduce trips to and money spent unnecessarily on quick-lube outlets is to switch to synthetic oils, which last longer and perform better than their traditional petroleum-based counterparts. Davis says that educated drivers should opt for longer lasting, better performing synthetic oils, which are “most likely good for 10,000 to 15,000 miles or six months” whether or not their manufacturers recommend more frequent changes or not. Some synthetic motor oils, like Amsoil, NEO and Red Line, to name a few, are created specifically to last 25,000 miles or one year before needing a change.

While neither conventional nor synthetic motor oils are good for the environment if disposed of improperly or spilled, most environmentalists would opt for the latter since it lasts three or more times longer and thus reduces waste (or energy use if recycled). Researchers have been experimenting with producing greener motor oils—one pilot project out of Purdue University has produced high-quality, carbon-neutral motor oil from canola crops—but consumers should not expect to see such products on store or garage shelves anytime soon, as the costs of production are high and the availability of cropland is limited. But the very existence of such alternatives—no doubt more are in the offing—bodes well for the future as oil becomes more scarce and expensive.

source :

http://www.popsci.com/earthtalk/article/2008-08/science-changing-your-oil