Archive for the ‘Critamu_Critaku’ Category

Kaum Miskin sebagai Aktor

Berjuta Jarak Jakarta-Bangkok (3)

BAIK di Jakarta maupun di Bangkok, kaum miskin sama-sama menempati ruang-ruang marjinal, seperti pinggir kali, pinggir rel, trotoar bagi pedagang kaki lima (PKL) dan lahan-lahan kosong milik pemerintah, milik pribadi atau milik korporasi. Di kedua kota ini, akses masyarakat miskin atas ruang dan lahan kota sangat terbatas. Pemerintah Bangkok dan Jakarta sama-sama berorientasi pada terwujudnya kota yang bersih. Kebijakan membangun kota dengan paradigma kota yang bersih selama ini condong menempatkan kaum miskin sebagai sumber masalah. Sebab kemiskinan acapkali disejajarkan dengan kekumuhan. Membangun kota yang bersih berarti memerangi kekumuhan. Sampai pada titik ini, tak ada jarak berarti antara Jakarta – Bangkok. Keduanya sama-sama memerangi kekumuhan. Yang membedakan adalah caranya.

Cara memerangi kekumuhan disandarkan pada paradigma yang sangat berbeda antara Jakarta – Bangkok. Jakarta memerangi kekumuhan dengan mengusir kaum miskin, lewat beragam cara: mulai dari pengabaian, penggusuran, pembakaran, sampai operasi yustisi. Sebab bagi pemerintah Jakarta, kaum miskin dipandang sebagai yang tak punya andil bagi pengembangan kota. Bahkan lebih dari itu, kaum miskin diposisikan sebagai beban. Cara pandang demikian ini bisa kita baca dari sikap dan tindakan penguasa kota Jakarta, yang sedikit pun tak ada rasa peduli saat bicara soal kaum miskin di Jakarta:

Gubernur Sutiyoso:

Sebagai gubernur saya malu pada orang asing yang datang ke Jakarta. Setelah keluar dari bandara, mereka langsung disuguhi pemandangan kumuh di wilayah banjir kanal. Pemda DKI sendiri mengemban amanat untuk menciptakan ibukota yang tertib, aman, nyaman, bersih dan indah, sehingga Jakarta representatif sebagai ibukota. Namun Pemda DKI menghadapi kendala urbanisasi yang tak terbendung dan banyaknya PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) yang melanggar Perda 11/1988. Untuk itu, Pemda memilih upaya penegakan hukum.

Pernyataan ini diujarkan dalam pertemuan dengan Komisi II DPR RI Sub Komisi Hukum dan HAM membahas masalah penggusuran pemukiman miskin, 7 Februari 2002.

Kasudin Trantib Jakarta Utara Toni Budiono:

Pembakaran atau bumi hangus merupakan salah satu taktik dalam operasi penertiban bangunan liar seperti bantaran kali. Dalam keadaan terpaksa, pembakaran bangunan ditempuh untuk memudahkan operasi membongkar.

(Kompas, 21 Nopember 2001)

Walikota Jakarta Pusat Abdul Kahfi:

Program peremajaan lingkungan kumuh menjadi rumah susun, gedung pusat perkantoran dan sentra bisnis, telah berhasil mengurangi jumlah penduduk Jakarta Pusat dalam enam tahun terakhir.

(Kompas, 29 April 1996)

Di Bangkok, kaum miskin punya pengalaman yang sangat lain. Pemerintah Bangkok melihat komunitas miskin sebagai aktor yang punya andil besar bagi pengembangan kota. Andai tidak ada kelompok miskin kota – yang selama ini menyediakan buruh murah dan makanan murah, biaya hidup di Bangkok akan sangatlah mahal. Kesadaran semacam inilah yang ada di kepala pemerintah Bangkok dan civil society-nya. Persoalan kekumuhan mereka pandang sebagai dampak dari minimnya infrastruktur, pelayanan dan jaminan keamanan di ruang-ruang marjinal yang menjadi hunian bagi komunitas miskin. Dengan sudut pandang seperti ini, solusi atas masalah kekumuhan tidak lagi menempatkan kaum miskin sebagai ”sumber masalah” atau ”sampah” yang pantas disingkirkan, melainkan sebagai bagian dari pengembangan kota. Selain itu, upaya mengatasi masalah kemiskinan di kota juga mereka padukan dengan upaya mengatasi kemiskinan di pedesaan. Dengan cara inilah pemerintah Thai menghindari atau setidaknya mengurangi urbanisasi.

(ecosocrights.blogspot.com)

Bagaimana pendapat anda?

Advertisements

Kebanggaan Memiliki Bahasa Ibu

Keprihatinan akan punahnya bahasa daerah akhir-akhir ini terkuak ke
permukaan. Banyak ahli, pemerhati dan pelestari bahasa serta budaya
memprihatinkan hal tersebut. “Bahasa Jawa yang memiliki pengguna terbanyak
pun, ternyata ahli sastra Jawa kuna yang masih aktif di universitas,
sekarang hanya tinggal 1 orang dan ada di Belanda sana,” ungkap Dr Titik
Pudjiastuti.

Sekretaris Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa) ini pantas merasa prihatin.
Minimnya perhatian terhadap bahasa daerah atau bahasa ibu ini membuat ia
sungguh merasa sangat khawatir. Di era otonomi daerah ini, paparnya saat
bertemu di Fakultas Ilmu Budaya UGM beberapa waktu lalu, pemerintah daerah
tampaknya harus segera merespons hal ini. Di negeri ini menurut penelitian
pemetaan bahasa daerah yang dilakukan oleh Pusat Bahasa, jelas Titik,
terdapat 448 bahasa daerah dengan sekitar 726 dialek. Ia menyebut, bahasa
daerah merupakan aset daerah yang mampu menjadi ciri tersendiri bagi daerah
tersebut. Sehingga sangat wajar sebut Titik kalau pemerintah daerah
melestarikan bahasa itu. “Yang memprihatinkan banyak anak muda lebih
tertarik untuk belajar bahasa asing dibandingkan dengan bahasa daerahnya
masing-masing,” katanya dalam kesempatan lain.

Tentu bukan salah anak muda. Menurut Titik yang pernah menjadi pengajar
kursus Bahasa Jawa di Jepang, pengaruh globalisasi membuat penguasaan bahasa
asing menjadi lebih serius dipelajari dibanding dengan bahasa daerah.
Apalagi, semua ini sangat terkait dengan kepentingan kerja dan masa depan.
Kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah, berkali-kali terungkap.

– Anda sepakat dengan munculnya kekhawatiran tersebut?
Ya tentu! Karena memang ada alasan ke arah sana, terutama untuk bahasa-
bahasa daerah yang penuturnya sangat sedikit.
– Bisa dijelaskan?
Kekhawatiran ini terutama untuk bahasa daerah dari etnis yang jumlah
penuturnya sedikit.
– Mengapa?
Adanya tayangan televisi yang lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia atau
dialek Jakarta dan juga peran orangtua yang tak lagi berbicara dengan bahasa
ibu kepada anak-anak mereka. Hal ini membuat generasi muda dari etnis-etnis
tertentu tak lagi bisa berbicara atau bahkan merasa asing dengan bahasa ibu
mereka sendiri.
– Bisa dicontohkan?
Lihat saja, Bahasa Lampung. Saat ini penutur Bahasa Lampung mungkin hanya
tinggal beberapa ratus orang saja, itupun dari kalangan orang tua-tua.
Sedangkan generasi mudanya? mereka lebih suka berbicara dalam Bahasa Jakarta
(dengan tersenyum Titik menyebutnya : “bukan Bahasa Indonesia”). Sebenarnya
bukan karena mereka tak mau berbicara dalam bahasa ibu. Tetapi karena mereka
memang tidak dikenalkan sejak dini atau diajak masuk dalam bahasa ibu mereka
oleh generasi sebelumnya. Namun tidak demikian halnya dengan Bahasa Jawa,
Sunda, Bali, dan Minang misalnya. Untuk bahasa ibu yang saya sebut ini, saya
tidak merasa khawatir. Karena masyarakat penutur bahasa-bahasa ibu ini masih
aktif menggunakan bahasa ibu mereka sebagai alat komunikasi – antargenerasi
– dan dalam kehidupan sehari-hari baik di daerahnya maupun di luar daerah
mereka sendiri. Bahasa Jawa, Anda nilai tidaklah mengkhawatirkan karena
penuturnya banyak. Tetapi seringkali muncul alasan bila strata dalam Bahasa
Jawa dinilai tidak demokratis sehingga orang kemudian merasa ‘malas’
menggunakan bahasa tersebut.
– Apa komentar Anda?
Jika dipandang dari sudut demokratis, memang benar. Adanya strata Bahasa
Jawa membuat seseorang tidak bisa berbicara atau bersikap seenaknya terhadap
lawan bicaranya. Sehingga seorang yang lebih muda atau lebih rendah
kedudukannya dari lawan bicaranya, harus berbicara dengan menggunakan
kosakata tertentu yang sesuai dengan keadaan dan masih harus dibarengi lagi
dengan sikap yang santun ketika berbicara. Tentu saja hal ini menyulitkan
orang yang tidak paham dengan Budaya Jawa atau tidak mengenal strata Bahasa
Jawa. Namun dari sudut pandang yang lain, strata Bahasa Jawa menurut saya
sangat berguna. Karena dapat melatih emosi dan pribadi seseorang untuk
bersikap santun dan halus ketika berbicara dengan lawannya, bahkan dalam
keadaan marah sekalipun. Sehingga seseorang tidak bisa bicara seenaknya.
– Di era otonomi sekarang, kebijakan DIY- Jawa Tengah adalah menjadikan
Bahasa Jawa sebagai muatan lokal (mulok). Bagaimana Anda melihat hal itu
terutama dalam hal pelestarian?
Sangat baik. Saya mendukung hal ini. Tetapi sebaiknya mulok tidak saja
ditujukan untuk pelestarian bahasa tetapi harusnya untuk tujuan yang lebih
penting lagi, yaitu untuk menanamkan rasa kebanggaan pada generasi muda
bahwa orang Jawa harus bangga karena memiliki bahasa ibu. Dengan demikian,
orang Jawa tak akan pernah rela melupakan atau meninggalkan bahasa ibu
mereka sendiri. Demikian juga untuk etnis dengan bahasa ibu masing-masing.
Bahasa Jawa adalah satu di antara yang masih bisa dikatakan eksis.
– Bagaimana Anda melihat masa depan Bahasa Jawa ini?
Menurut saya Bahasa Jawa tidak akan punah selagi masih ada rasa kebanggaan
dan kesadaran anggota etnisnya — dimanapun mereka berada — bahwa mereka
adalah orang Jawa yang berbahasa Jawa dan berbudaya Jawa. Secara historis
kita tahu bahwa sejak abad ke-9 bahasa Jawa (kuno) sudah eksis (lihat
Zoetmulder, 1974:3) dan tidak pernah surut bahkan terus berkembang mengikuti
perkembangan zaman, karena itu kosa katanya terus bertambah (dari hanya
sebagai alat komunikasi, karya sastra sampai ke teknologi) hingga seperti
sekarang.
– Apakah Anda akan menyebut bila Bahasa Jawa bisa dikatakan lebih prospektif
digunakan dalam arti masih bisa lestari?
Ya. Karena masih banyak penuturnya yang (saya harap) bangga menjadi orang
Jawa dan bisa berbahasa Jawa.
– Jika demikian, bagaimana dengan sastra daerah terutama Jawa?
Seharusnya selagi masih ada orang yang bangga menjadi orang Jawa, sastra
daerah Jawa tidak boleh mati. Akan tetapi pada zaman yang materialistis
seperti sekarang, seringkali masalah idealisme terkalahkan oleh kebutuhan
hidup. Akibatnya sastra daerah Jawa, tidak begitu banyak diminati oleh
generasi muda. Kebijakan mulok Bahasa Jawa di Jawa Tengah DIY, cukup bagus.
Bahkan daerah lain pun perlu mengajarkan bahasa daerahnya. Tetapi karena jam
pengajarannya yang sedikit dan materinya juga minim, hal ini bukanlah
menjadi solusi ampuh menjaga bahasa daerah dari kerentanannya. “Pemerintah
perlu mengambil peran dan mungkin juga penghargaan terhadap para
pelestarinya,” tandas Titik serius.
– Sulitnya melestarikan atau kemudian mengembangkan bahasa dan sastra Jawa
ataupun sastra daerah ini karena apa? Apakah karena ada bahasa nasional,
minimnya ahli dan minimnya penghargaan terhadap ahli Jawa?
Semua ada benarnya. Adanya bahasa nasional, minimnya ahli dan penghargaan
membuat bahasa dan sastra daerah Jawa dan daerah lain sulit berkembang.
Tetapi bahasa nasional Bahasa Indonesia telah kita sepakati bersama untuk
kita gunakan sebagai bahasa persatuan. Sekarang diperlukan kiat-kiat khusus,
antara lain peran aktif pemerintah untuk ikut menjaga bahasa dan budaya
daerah di Indonesia seperti yang terkandung dalam UUD 45. Kita sering
terkagum-kagum ketika banyak orang manca yang mempelajari bahasa dan juga
Budaya Jawa.
– Bagaimana Anda melihat hal itu?
Bukan hanya kagum tetapi juga senang bahwa masih banyak orang manca yang mau
ikut melestarikan Bahasa Jawa — apapun alasan mereka. Tetapi juga sedih
karena terbayang jika generasi muda Indonesia tak diingatkan atau disadarkan
sejak sekarang bahwa Bahasa Jawa merupakan bahasa dunia yang penting, kelak
mereka akan terpaksa belajar kepada orang manca. Sekarang saja untuk sastra
Jawa kuna keadaan sudah demikian. Kini di universitas manapun di seluruh
dunia, pakar filologi (studi tentang naskah kuna) Jawa kuna yang masih
berstatus menjadi pengajar hanya tinggal seorang. Pakar filologi Jawa Kuna
itu namanya Dr Willem van der Molen, saat ini beliau adalah pengajar di
Fakultas Sastra Universitas Leiden merangkap kepala Perpustakaan KITLV
(Koninklijk Instituut voor Taal-, Land -, en Volkunkunde) Leiden. Akankah
untuk bahasa dan Sastra Jawa yang bukan kuna pun generasi muda kita kelak
harus belajar ke manca?
– Bagaimana komentar Anda ketika mendengar kalimat: “nanti kita harus ke
Belanda untuk belajar gamelan, macapat, tari atau yang lain?”
Wah bukan cuma ke Belanda tetapi juga ke Amerika. Jadi selagi belum
terlambat, mari kita bekali anak-anak kita dengan kebanggaan akan budayanya
sendiri yang luar biasa. Jangan biarkan mereka lebih terkagum-kagum pada
budaya barat yang sebenarnya banyak yang tak sesuai dengan kepribangsa
Indonesia. Caranya, sejak dini tanamkan rasa bangga itu melalui dongeng,
dolanan dan macam-macam gerak budaya tradisional kepada generasi muda.
Orangtua, guru dan lingkungan, serta lebih lebar lagi, pemerintah daerah
harus bahu membahu menanamkan kebanggaan itu kepada generasi muda. Ahli
sastra Jawa kita sangat sedikit.
– Sebagai Sekretaris Yayasan Naskah Nusantara, kebijakan apa yang harus
dilakukan pemerintah dengan hal ini. Mungkin juga untuk sastra lain: Bali,
Sunda dan yang lain?
Memasukkan bahasa daerah sebagai muatan lokal dalam kurikulum SD, SMP dan
SMA sudah baik. Tetapi saya kira tidak cukup hanya dengan mengajarkan bahasa
daerah. Jadi saya ingin unsur budaya juga diajarkan: seperti menyajikan
dongeng anak-anak, peragakan dolanan tradisional, lagu daerah dan juga
kuliner daerah. Selain itu, saya harapkan juga pemerintah daerah (karena
sudah otonomi) ikut serta dalam memberi fasilitas dan penghargaan yang lebih
konkret untuk para peneliti, pengamat dan peminat bahasa dan budaya daerah.
Mengapa, tentu saja jawabnya adalah agar mereka aktif mengembangkan sastra,
bahasa dan budaya daerah.
– Bentuknya?
Penghargaan ini bisa dengan bentuk menyediakan dana untuk beasiswa,
penelitian, penulisan dan serta penerbitan. Juga gencar melaksanakan
lomba-lomba yang berkenaan dengan bahasa, sastra dan budaya daerah. Dengan
cara ini, akan banyak orang Indonesia yang tidak ragu-ragu lagi
mengembangkan budaya daerahnya, sehingga Indonesia tidak akan kehilangan
ahli ke daerahannya di masa depan. (Fadmi Sustiwi)

Bagaimana pendapat anda?

Berbagi Pengetahuan: Siapa yang Mengelola Pengetahuan ?

Dalam satu dasawarsa terakhir pengelolaan pengetahuan (knowledge management), menjadi salah satu metode peningkatan produktifitas suatu organisasi, perusahaan atau instansi. Hal ini dapat dimengerti karena kompetisi tidak lagi mengandalkan sumber daya alam, tetapi berpindah kepada pemanfaatan sumber daya manusia secara optimal. Pemanfaatan sumber daya manusia melalui potensi kreativitas dan inovasi, agar dapat meningkatkan produktivitas suatu organisasi.

Berbagi pengetahuan (knowledge sharing) merupakan salah satu metode dalam knowledge management yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu organisasi, instansi atau perusahaan untuk berbagi ilmu pengetahuan, teknik, pengalaman dan ide yang mereka miliki kepada anggota lainnya. Berbagi pengetahuan hanya dapat dilakukan bilamana setiap anggota memiliki kesempatan yang luas dalam menyampaikan pendapat, ide, kritikan, dan komentarnya kepada anggota lainnya. Disinilah peran berbagi pengetahuan dikalangan karyawan menjadi amat penting untuk meningkatkan kemampuan karyawan agar mampu berpikir secara logika yang diharapkan akan mengahasilkan suatu bentuk inovasi. Jadi inovasi merupakan suatu proses dari ide melalui penelitian dan pengembangan akan menghasilkan prototipe yang bisa dikomersialkan. Sebenarnya menurut para ahli misalnya Carl Davidson dan Philip Voss mengatakan bahwa mengelola knowledge sebenarnya merupakan bagaimana organisasi mengelola staf mereka, sebenarnya bahwa knowledge management adalah bagaimana orang-orang dari berbagai tempat yang saling berbeda mulai saling bicara.

Wakil perusahaan dari Rover Group (Collin Jones) mengatakan bahwa sebagai bagian dari knowledge management strategy, Rovernet mengatakan bahwa intranet merupakan bagian yang sangat membantu mereka dalam mengaplikasikan learning dan share best practice mereka. Menurut David J.Skryme bahwa salah satu tantangan knowledge management adalah menjadikan manusia berbagai knowledge mereka. Untuk mengahadapi tantangan tersebut dia menyarankan tiga C yaitu: Culture, Co-opetition (menyatukan kerjasama dengan persaingan) dan Commitment.

lihat lebih lengkap disini :

http://www.ilmukomputer.org/wp-content/uploads/2006/09/bse-berbagi.pdf

sumber : http://www.ilmukomputer.com

ditulis oleh Bambang Setiarso