Kebanggaan Memiliki Bahasa Ibu

Keprihatinan akan punahnya bahasa daerah akhir-akhir ini terkuak ke
permukaan. Banyak ahli, pemerhati dan pelestari bahasa serta budaya
memprihatinkan hal tersebut. “Bahasa Jawa yang memiliki pengguna terbanyak
pun, ternyata ahli sastra Jawa kuna yang masih aktif di universitas,
sekarang hanya tinggal 1 orang dan ada di Belanda sana,” ungkap Dr Titik
Pudjiastuti.

Sekretaris Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa) ini pantas merasa prihatin.
Minimnya perhatian terhadap bahasa daerah atau bahasa ibu ini membuat ia
sungguh merasa sangat khawatir. Di era otonomi daerah ini, paparnya saat
bertemu di Fakultas Ilmu Budaya UGM beberapa waktu lalu, pemerintah daerah
tampaknya harus segera merespons hal ini. Di negeri ini menurut penelitian
pemetaan bahasa daerah yang dilakukan oleh Pusat Bahasa, jelas Titik,
terdapat 448 bahasa daerah dengan sekitar 726 dialek. Ia menyebut, bahasa
daerah merupakan aset daerah yang mampu menjadi ciri tersendiri bagi daerah
tersebut. Sehingga sangat wajar sebut Titik kalau pemerintah daerah
melestarikan bahasa itu. “Yang memprihatinkan banyak anak muda lebih
tertarik untuk belajar bahasa asing dibandingkan dengan bahasa daerahnya
masing-masing,” katanya dalam kesempatan lain.

Tentu bukan salah anak muda. Menurut Titik yang pernah menjadi pengajar
kursus Bahasa Jawa di Jepang, pengaruh globalisasi membuat penguasaan bahasa
asing menjadi lebih serius dipelajari dibanding dengan bahasa daerah.
Apalagi, semua ini sangat terkait dengan kepentingan kerja dan masa depan.
Kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah, berkali-kali terungkap.

– Anda sepakat dengan munculnya kekhawatiran tersebut?
Ya tentu! Karena memang ada alasan ke arah sana, terutama untuk bahasa-
bahasa daerah yang penuturnya sangat sedikit.
– Bisa dijelaskan?
Kekhawatiran ini terutama untuk bahasa daerah dari etnis yang jumlah
penuturnya sedikit.
– Mengapa?
Adanya tayangan televisi yang lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia atau
dialek Jakarta dan juga peran orangtua yang tak lagi berbicara dengan bahasa
ibu kepada anak-anak mereka. Hal ini membuat generasi muda dari etnis-etnis
tertentu tak lagi bisa berbicara atau bahkan merasa asing dengan bahasa ibu
mereka sendiri.
– Bisa dicontohkan?
Lihat saja, Bahasa Lampung. Saat ini penutur Bahasa Lampung mungkin hanya
tinggal beberapa ratus orang saja, itupun dari kalangan orang tua-tua.
Sedangkan generasi mudanya? mereka lebih suka berbicara dalam Bahasa Jakarta
(dengan tersenyum Titik menyebutnya : “bukan Bahasa Indonesia”). Sebenarnya
bukan karena mereka tak mau berbicara dalam bahasa ibu. Tetapi karena mereka
memang tidak dikenalkan sejak dini atau diajak masuk dalam bahasa ibu mereka
oleh generasi sebelumnya. Namun tidak demikian halnya dengan Bahasa Jawa,
Sunda, Bali, dan Minang misalnya. Untuk bahasa ibu yang saya sebut ini, saya
tidak merasa khawatir. Karena masyarakat penutur bahasa-bahasa ibu ini masih
aktif menggunakan bahasa ibu mereka sebagai alat komunikasi – antargenerasi
– dan dalam kehidupan sehari-hari baik di daerahnya maupun di luar daerah
mereka sendiri. Bahasa Jawa, Anda nilai tidaklah mengkhawatirkan karena
penuturnya banyak. Tetapi seringkali muncul alasan bila strata dalam Bahasa
Jawa dinilai tidak demokratis sehingga orang kemudian merasa ‘malas’
menggunakan bahasa tersebut.
– Apa komentar Anda?
Jika dipandang dari sudut demokratis, memang benar. Adanya strata Bahasa
Jawa membuat seseorang tidak bisa berbicara atau bersikap seenaknya terhadap
lawan bicaranya. Sehingga seorang yang lebih muda atau lebih rendah
kedudukannya dari lawan bicaranya, harus berbicara dengan menggunakan
kosakata tertentu yang sesuai dengan keadaan dan masih harus dibarengi lagi
dengan sikap yang santun ketika berbicara. Tentu saja hal ini menyulitkan
orang yang tidak paham dengan Budaya Jawa atau tidak mengenal strata Bahasa
Jawa. Namun dari sudut pandang yang lain, strata Bahasa Jawa menurut saya
sangat berguna. Karena dapat melatih emosi dan pribadi seseorang untuk
bersikap santun dan halus ketika berbicara dengan lawannya, bahkan dalam
keadaan marah sekalipun. Sehingga seseorang tidak bisa bicara seenaknya.
– Di era otonomi sekarang, kebijakan DIY- Jawa Tengah adalah menjadikan
Bahasa Jawa sebagai muatan lokal (mulok). Bagaimana Anda melihat hal itu
terutama dalam hal pelestarian?
Sangat baik. Saya mendukung hal ini. Tetapi sebaiknya mulok tidak saja
ditujukan untuk pelestarian bahasa tetapi harusnya untuk tujuan yang lebih
penting lagi, yaitu untuk menanamkan rasa kebanggaan pada generasi muda
bahwa orang Jawa harus bangga karena memiliki bahasa ibu. Dengan demikian,
orang Jawa tak akan pernah rela melupakan atau meninggalkan bahasa ibu
mereka sendiri. Demikian juga untuk etnis dengan bahasa ibu masing-masing.
Bahasa Jawa adalah satu di antara yang masih bisa dikatakan eksis.
– Bagaimana Anda melihat masa depan Bahasa Jawa ini?
Menurut saya Bahasa Jawa tidak akan punah selagi masih ada rasa kebanggaan
dan kesadaran anggota etnisnya — dimanapun mereka berada — bahwa mereka
adalah orang Jawa yang berbahasa Jawa dan berbudaya Jawa. Secara historis
kita tahu bahwa sejak abad ke-9 bahasa Jawa (kuno) sudah eksis (lihat
Zoetmulder, 1974:3) dan tidak pernah surut bahkan terus berkembang mengikuti
perkembangan zaman, karena itu kosa katanya terus bertambah (dari hanya
sebagai alat komunikasi, karya sastra sampai ke teknologi) hingga seperti
sekarang.
– Apakah Anda akan menyebut bila Bahasa Jawa bisa dikatakan lebih prospektif
digunakan dalam arti masih bisa lestari?
Ya. Karena masih banyak penuturnya yang (saya harap) bangga menjadi orang
Jawa dan bisa berbahasa Jawa.
– Jika demikian, bagaimana dengan sastra daerah terutama Jawa?
Seharusnya selagi masih ada orang yang bangga menjadi orang Jawa, sastra
daerah Jawa tidak boleh mati. Akan tetapi pada zaman yang materialistis
seperti sekarang, seringkali masalah idealisme terkalahkan oleh kebutuhan
hidup. Akibatnya sastra daerah Jawa, tidak begitu banyak diminati oleh
generasi muda. Kebijakan mulok Bahasa Jawa di Jawa Tengah DIY, cukup bagus.
Bahkan daerah lain pun perlu mengajarkan bahasa daerahnya. Tetapi karena jam
pengajarannya yang sedikit dan materinya juga minim, hal ini bukanlah
menjadi solusi ampuh menjaga bahasa daerah dari kerentanannya. “Pemerintah
perlu mengambil peran dan mungkin juga penghargaan terhadap para
pelestarinya,” tandas Titik serius.
– Sulitnya melestarikan atau kemudian mengembangkan bahasa dan sastra Jawa
ataupun sastra daerah ini karena apa? Apakah karena ada bahasa nasional,
minimnya ahli dan minimnya penghargaan terhadap ahli Jawa?
Semua ada benarnya. Adanya bahasa nasional, minimnya ahli dan penghargaan
membuat bahasa dan sastra daerah Jawa dan daerah lain sulit berkembang.
Tetapi bahasa nasional Bahasa Indonesia telah kita sepakati bersama untuk
kita gunakan sebagai bahasa persatuan. Sekarang diperlukan kiat-kiat khusus,
antara lain peran aktif pemerintah untuk ikut menjaga bahasa dan budaya
daerah di Indonesia seperti yang terkandung dalam UUD 45. Kita sering
terkagum-kagum ketika banyak orang manca yang mempelajari bahasa dan juga
Budaya Jawa.
– Bagaimana Anda melihat hal itu?
Bukan hanya kagum tetapi juga senang bahwa masih banyak orang manca yang mau
ikut melestarikan Bahasa Jawa — apapun alasan mereka. Tetapi juga sedih
karena terbayang jika generasi muda Indonesia tak diingatkan atau disadarkan
sejak sekarang bahwa Bahasa Jawa merupakan bahasa dunia yang penting, kelak
mereka akan terpaksa belajar kepada orang manca. Sekarang saja untuk sastra
Jawa kuna keadaan sudah demikian. Kini di universitas manapun di seluruh
dunia, pakar filologi (studi tentang naskah kuna) Jawa kuna yang masih
berstatus menjadi pengajar hanya tinggal seorang. Pakar filologi Jawa Kuna
itu namanya Dr Willem van der Molen, saat ini beliau adalah pengajar di
Fakultas Sastra Universitas Leiden merangkap kepala Perpustakaan KITLV
(Koninklijk Instituut voor Taal-, Land -, en Volkunkunde) Leiden. Akankah
untuk bahasa dan Sastra Jawa yang bukan kuna pun generasi muda kita kelak
harus belajar ke manca?
– Bagaimana komentar Anda ketika mendengar kalimat: “nanti kita harus ke
Belanda untuk belajar gamelan, macapat, tari atau yang lain?”
Wah bukan cuma ke Belanda tetapi juga ke Amerika. Jadi selagi belum
terlambat, mari kita bekali anak-anak kita dengan kebanggaan akan budayanya
sendiri yang luar biasa. Jangan biarkan mereka lebih terkagum-kagum pada
budaya barat yang sebenarnya banyak yang tak sesuai dengan kepribangsa
Indonesia. Caranya, sejak dini tanamkan rasa bangga itu melalui dongeng,
dolanan dan macam-macam gerak budaya tradisional kepada generasi muda.
Orangtua, guru dan lingkungan, serta lebih lebar lagi, pemerintah daerah
harus bahu membahu menanamkan kebanggaan itu kepada generasi muda. Ahli
sastra Jawa kita sangat sedikit.
– Sebagai Sekretaris Yayasan Naskah Nusantara, kebijakan apa yang harus
dilakukan pemerintah dengan hal ini. Mungkin juga untuk sastra lain: Bali,
Sunda dan yang lain?
Memasukkan bahasa daerah sebagai muatan lokal dalam kurikulum SD, SMP dan
SMA sudah baik. Tetapi saya kira tidak cukup hanya dengan mengajarkan bahasa
daerah. Jadi saya ingin unsur budaya juga diajarkan: seperti menyajikan
dongeng anak-anak, peragakan dolanan tradisional, lagu daerah dan juga
kuliner daerah. Selain itu, saya harapkan juga pemerintah daerah (karena
sudah otonomi) ikut serta dalam memberi fasilitas dan penghargaan yang lebih
konkret untuk para peneliti, pengamat dan peminat bahasa dan budaya daerah.
Mengapa, tentu saja jawabnya adalah agar mereka aktif mengembangkan sastra,
bahasa dan budaya daerah.
– Bentuknya?
Penghargaan ini bisa dengan bentuk menyediakan dana untuk beasiswa,
penelitian, penulisan dan serta penerbitan. Juga gencar melaksanakan
lomba-lomba yang berkenaan dengan bahasa, sastra dan budaya daerah. Dengan
cara ini, akan banyak orang Indonesia yang tidak ragu-ragu lagi
mengembangkan budaya daerahnya, sehingga Indonesia tidak akan kehilangan
ahli ke daerahannya di masa depan. (Fadmi Sustiwi)

Bagaimana pendapat anda?

3 responses to this post.

  1. Posted by ellen on August 20, 2008 at 1:42

    hmmm,,
    susah sehh,,
    klo di lampung mah ga semua anak remajanya make bahasa lampung,
    mau make sama sapa, klo temen2 sebaya-nya kebanyakan orang jawa, sunda, padang, etc.
    karena semakin multikultural suatu daerah, makin susah sebuah bahasa aseli dipertahankan_
    klo mau denger2in bahasa ibu, sering2 aja dateng ke event2 suku bersangkutan…

    lagipula, g juga bahasa-ibu-pasif, alias ga ngerti nge-reply orang klo diajakin ngomong bahasa ibu_

    peace bro!!
    he5,,

    Reply

  2. Sebuah fenomena!
    Di Kota Tegal, kami justru sedang menggalakkan bahasa ibu sebagai sub pokok kreasi seniman.
    Kini bermunculan sastra dan puisi Tegalan, bahkan yang terbaru kami memiliki tugas untuk memproduksi film berbahasa Tegal, tentunya bersub tittle jadi orang luar daerah bisa tahu tentang bahasa kita.
    Yang jelas, kontaminasi dari bahasa gaul pasti langsung diserap oleh remaja. Untuk itu sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga dan melestarikan bahasa ibu masing-masing daerah.
    Kalau bukan kita sendiri siapa lagi? Pemerintah? Nggak mungkin..nggak mungkin…

    Reply

  3. Satu lagi…
    untuk rekan-rekan yang ingin tahu tentang bahasa tegal. Dewan Kesenian Kota Tegal, menyediakan Free VCD Film Warto Togel’ untuk bahan pembelajaran bahasa ibu. Kirimkan surat permohonan saja ke Dewan Kesenian Kota Tegal
    Jl. Setiabudi No. 163 Kota Tegal
    Bravo Bahasa Ibu !

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: